Baju Matahari

Kaki mu kecil, kau kaki melangkah beralas aspal
ya jelas terbakar,  tanpa ampun dipaksanya
"usap dahulu keringat mu" sebelum jatuhi bibirmu
meski terik menerpa, kau tak merasakan asinnya keringatmu
ucap anak itu kepada adiknya.
tak jelas apa yang mereka bawa, setengah minuman setengah koran

langit mulai kehilangan warna, gelap.
pulanglah mereka berdua menemui ibunya yang tengah berbaring lemah
rumahnya bilik bambu sederhana di samping pematang sawah
setiap musim panen padi, hanya asap gabah yang mereka makan
baju matahari yang mereka kenakan tak banyak memberi kehidupan


fajarprasetyo




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.